Selasa, 20 September 2011

Semeru Fun Hiking (4)



Pada posko pendaftaran, terdapat pengumuman pada secarik kertas yang ditempel di dinding. Sebuah peringatan, “Pendakian hanya boleh dilakukan sampai Kalimati”, begitulah isinya. Dan batas waktu mulai pendakian dari resort Ranu pani yaitu pukul 16.00.
Awalnya kami berencana akan menginap sehari di Ranu Pani, dan esok paginya baru mulai menuju Ranu Kumbolo. Namun berdasarkan keputusan bersama, dengan pertimbangan lama perjalanan menuju ranu kumbolo yang sekitar 4 jam, kami memutuskan untuk langsung naik setelah beristirahat. lagi pula hari masih sangat siang.

Waktu menunjukan sekitar 15:30
Briefing kami lakukan sebelum pendakian dimulai. Berdoa demi keselamatan dan menyatukan semangat serta kekompakan.
“Semeru Fun Hiking”…… “Huuuuh”

Satu persatu kami meninggalkan damainya desa Ranu Pani. Jalan beraspal mengantarkan kami masuk ke jalur pendakian. Pemandangan perkebunan yang terhampar di lereng-lereng memanjakan mata-mata kami. Berbelok
ke jalur yang semakin sempit, kanan kiri dipenuhi dengan belukar. Menuju pos 1. Jalur yang kami dapati adalah jalan sempit yang terpasang paving block. Jarak masing-masing kami tidak terlalu jauh dan saling menunggu. Langkah kuatur agar tidak menguras energi terlalu banyak di awal.


Sesampainya di Pos 1 terdapat saung, cukup untuk tempat kami melepas lelah sejenak. Entah sudah pukul berapa, satu persatu dari kami akhirnya sampai. Ketika hampir semua tim berkumpul, maka yang telah sampai lebih dulu mulai melanjutkan perjalanan kembali.

Tak perlu berlama-lama karena perjalanan masih cukup panjang. Setelah melewati pos 1, jarak masing-masing kami sudah tak dapat ditentukan. Ritme perjalanan disesuaikan kemampuan. Kini bukan lagi paving block yang kami pijak.

Dari awal perjalanan ada Komenk yang menjadi “pengawal”. Kesabarannya luar biasa, memberikanku semangat. Sesekali kami membuka obrolan saat berhenti beristirahat. Meneguk air hanya untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kering oleh debu-debu yang ikut masuk. Selebihnya, kami memilih diam menikmati perjalanan.

Jalur yang kami lalui mulai bervariasi. Menanjak, menanjak dan menanjak. Sesekali jalan datar dan menurun yang kami sebut dengan istilah “bonus” menjadi penghiburku saat itu. Nafasku berburu satu persatu. Lelah pun menghinggap lebih cepat. Langkahku melambat.

“santai aja Pay”, itu yang selalu dibilang Komenk kepadaku  (santai kayak di pantai, ups)

Semangat itu bukan hanya dari dalam diriku, bukan cuma dari teman seperjalananku, melainkan dari para pendaki yang aku temui, yang kebetulan berpapasan di jalan.
“semangat mba…” (terimakasih kawans  )

Langit tak lagi berwarna jingga. Hangat mentari mulai memudar berganti dingin. Gelap malam mulai menyelinap. Kami harus segera menambah perlengkapan yang kami kenakan; jaket, sarung tangan, dan senter. Selain itu, langkah kami harus lebih hati-hati.

Keinginan untuk segera sampai membuat langkahku tak beraturan.
“aduuuh...”  rintihku tiba-tiba.
“kenapa Pay?” Tanya komenk yang berada di belakangku.
“betisku kram” keluhku sambil mencoba duduk semampunya.
Sakit. Uratnya seperti. Tegang. Perjalanan terpaksa dihentikan. Ku coba melemaskan perlahan-lahan.

Alhamdulillah… rasa sakitnya cepat menghilang. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Saat itu hanya tinggal kami berdua. Di depan sudah tak ada siapa-siapa. Di belakang belum terlihat tanda-tanda. Mengikuti jalur yang ada, kami terus berjalan tanpa berhenti. Ternyata kami melewati jalur yang bukan semestinya. Kami terbuai dengan jalur landai yang membawa kami jalan agak jauh memutar. Huuft…


Kemilau air yang membentang luas menandakan kami telah sampai di Ranu Kumbolo, tempat yang kami sepakati untuk berhenti. Namun kami tak tau dimana tenda-tenda tim kami berdiri.

Aku dan Komenk berhenti. Sambil memandang langit yang dipenuhi taburan bintang, kami menunggu kawan yang masih di belakang; Cb, Husin, dan Ayek. Dingin yang menusuk membuat tubuhku terus menggigil, meskipun dua lapis jaket sudah kukenakan. Sesekali ku panggil nama “Riri”, “Diana”, “Joe” secara bergantian untuk mengetahui keberadaan mereka. Namun suaraku seperti tertelan malam di tengah danau yang membentang.

Kami tinggal berlima. Kami harus kembali berjalan menyusuri tepian danau, karena diperkiran tim kami membuat tenda di dekat pos Ranu Kumbolo, yaitu di seberang danau dari tempat dimana kami istirahat sekarang. Di bawah cahaya bintang yang menawan, kami berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan.

Pos terakhir Ranu Kumbolo. Aku mencari dengan cara memanggil salah satu nama “Riri”
“Kami di sini”, jawaban yang menandakan keberadaan mereka dan langsung saja kumenghampiri sumber suara. Alhamdulillah, semua telah berkumpul. Beberapa tenda telah berdiri dan sudah diisi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 9 malam.

Setelah semua tenda berdiri, kami melakukan kegiatan yang paling aku suka, masak-memasak. Sebagian ada yang menunggu di dalam tenda, menunggu kiriman, ada juga yang sudah tertidur karena kelelahan. Semua kami lakukan dengan riang. Dingin yang makin mencekam sedikit tak dihiraukan. Ditemani seteguk, dua teguk minuman hangat yang telah dibuat menjadi sangat nikmat.

Masak memasak malam ini kami lakukan dengan membuat menu sederhana, mie rebus saja. Padahal rencananya akan ada menu sedikit istimewa, nasi hangat dengan tumis kangkung tauge, dan di tutup dengan puding segar. Tapi rencana itu kami tinggalkan, karena tidak memungkinkan. Kegiatan memasak malam itu tak sesederhana seperti menunya karena kami harus bertarung dengan dinginnya malam.

Obrolan-obrolan ringan ditambah sedikit debat karena perbedaan pendapat tentang cara memasak, bumbu untuk menu yang akan dibuat menjadikan suasana semakin hangat. Pada akhirnya diutuslah secara sepihak Mr. CB sebagai master chef. ( gelar yang tak dapat ditolak ) 

Setelah acara makan-makan selesai, satu persatu mulai masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Selamat malam kawan, selamat malam bintang.

*Foto : Semeru Fun Hiking
 

Kamis, 15 September 2011

Semeru Fun Hiking (3)

Malang,  1 September 2011

Selamat pagi kawan…selamat pagi Malang…

Alhamdulillah..kami sudah sampai di stasiun Malang. Rasanya tak perlu kuceritakan bagaimana nasib kami semalam di dalam kereta. Pertama yang kulakukan saat menjejakkan kaki turun dari gerbong kereta, yaitu berburu toilet. Karena alasan kenyamanan dan kebersihan aku berhasil menahan hasrat untuk mengosongkan kantong kemihku yang sudah penuh. (jangan di contoh ya..ga baik buat kesehatan)

Sebelum kami melanjutkan perjalanan, Heru dan dua orang kawan lainnya langsung mengantre tiket pulang ke Jakarta, khawatir kalau-kalau kehabisan tiket karena bertepatan dengan arus balik. Sebagian dari kami menggunakan kesempatan untuk beristirahat termasuk aku.

Tujuan kami selanjutnya adalah pasar Tumpang. Dengan menyewa dua angkot berwarna biru, 20 orang beserta barang bawaannya berhasil diangkut. Beberapa angkot lain sudah jalan lebih dulu, dan sepertinya kami adalah rombongan terakhir yang meninggalkan stasiun Malang. Tak apalah, masih banyak waktu yang tersedia.

Di tengah jalan, angkot yang aku tumpangi sempat berhenti dua kali. Pertama karena tas yang diikat di atas kap jatuh ke jalan, jadi harus dikencangkan kembali ikatannya. Kedua karena kami mencari tempat foto copy, kami belum me-foto copy kartu tanda pengenal yang menjadi salah satu syarat wajib untuk pendaftaran pendakian selain surat keterangan sehat dari dokter. Alhamdulillah…setelah itu perjalanan lancar sampai di pasar Tumpang. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Pasar Tumpang merupakan akses point para pendaki yang hendak melakukan pendakian ke Semeru. Dari pasar Tumpang, kami menyewa jip untuk menuju ke resort Ranu Pani. Namun sebelumnya kami mencari tempat makan untuk sarapan. Aku dan Riri mampir ke pasar Tumpang untuk membeli beberapa jenis bahan makanan yang belum kami bawa dari Jakarta yang akan diolah menjadi menu special. Beberapa ikat daun kangkung, sayuran sop, baso, buah mangga, kacang hijau dan bumbu-bumbu yang diperlukan sudah memenuhi kantong belanjaan.



Perut sudah kenyang.  Kebutuhan tambahan sudah disiapkan. Jip sudah siap mengantarkan dengan harga yang sudah disepakati, perorang Rp.30.000,-. Jip yang kami sewa bisa mengangkut 15-20 orang sekaligus.



Tak terbayang sebelumnya kalau ternyata jip yang aku tumpangi harus dengan cara berdiri. Tapi justru disanalah seninya, ada rasa kebersamaan yang didapat. Riri menyarankanku untuk tidak duduk di depan agar bisa melihat pemandangan dan perubahan dingin yang dirasakan saat jip terus naik ke dataran yang lebih tinggi. Riri sudah beberapa kali ke Semeru, jadi bukan hal baru merasakan sensasi perjalanan ini, tidak seperti aku. Sekitar 3 jam perjalanan kami akan umpel-umpelan.

Harusnya kami melakukan perizinan terlebih dahulu di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang letaknya belum terlalu jauh dari pasar Tumpang, namun ternyata jip terus jalan. Baiklah, mungkin perizinan sekaligus dilakukan nanti saat sudah sampai di resort Ranu Pani.

Hawa dingin yang aku rasa sudah semakin merasuk dalam. Jalanan berdebu membuatku tak dapat tetap menatap. Jalan yang tak rata dan menanjak membuat jip oleng ke kanan dan ke kiri, begitu pun juga kami. Jip pickup jenis Toyota hardtop terus meraung melewati jalan sempit  yang terus menanjak. Sesekali ranting pohon yang tumbuh liar di sisi jalan menyapa wajah-wajah kami.


Di tengah perjalanan kami behenti sejenak, entah apa nama tempatnya. Dari posisi kami berhenti, pemandangan bukit teletubies Bromo memanjakan mata. Meski bukan hijau yang kami dapatkan karena habis kebakaran, namun pesonanya membuat kami tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto-foto ria. Berbagai gaya kami cipta yang tertangkap di lensa kamera.

Hari makin siang, perjalan kami lanjutkan. Dari kejauhan, puncak Mahameru yang menyembulkan asap putih menjadi pemandangan sangat mengagumkan. Ucapan selamat datang untuk kami yang segera bertandang.


Selamat datang di desa Ranu Pani. Desa Ranu Pani merupakan gerbang masuk bagi para pendaki Gunung Semeru. Terdapat resort sebagai pos perizinan dan pengecekan bagi pengunjung/pendaki yang akan memasuki kawasan gunung Semeru. Berada di ketinggian 2200 mdpl.  Ranu Pani adalah nama sebuah danau gunung di kabupaten Lumajang, di kaki gunung Semeru. Memiliki luas sekitar 4 hektar.  Sayang disayang, saat itu mungkin karena kemarau, air di ranu pani surut, hampir bisa dikatakan kering.

Carriel-carriel diturunkan satu per satu. Riri dan Joe langsung mengurus perizinan. Sudah banyak pendaki yang sudah sampai lebih dulu, bahkan ada yang sudah melakukan pendakian.


Kami kembali beristirahat di posko pendakian, sambil melakukan packing ulang. Meninggalkan barang-barang yang sekiranya tidak dibutuhkan seperti baju ganti untuk pulang nanti dan lain sebagianya. Bersih-bersihpun kami lakukan. Aku menyempatkan mandi dengan air yang membekukan dan tak lupa laporan pada yang Maha segalanya semoga diberi keselamatan.


(bersambung)

*foto : Semeru Fun Hiking


Rabu, 14 September 2011

Semeru Fun Hiking (2)

Terancam gagal, Oh tentu tidak. Dilema pemerintah dalam penetapan  tanggal  1 syawal 1432 H tidak berpengaruh pada rencana pemberangkatan kami. Sebagai warga negara yang baik yang taat pada pemimpinnya, tetap setia menunggu keputusan diumumkan, tapi tidak merubah rencana yang sudah ditetapkan. Lagi pula tiket yang sudah dipesan tidak dapat diubah tanggal pemberangkatannya (maklum kereta ekonomi).


"Karna hilal setitik, rusak opor sebelanga", peribahasa pelesetan yang langsung tenar.

Saat keputusan sudah diumumkan bahwa tanggal 31 Agustus 2011 sebagai 1 syawal 1432 H, maka yang aku lakukan adalah menjadwalkan kunjungan silaturahim ke rumah saudara terdekat hanya sampai sekitar jam 9, selebihnya aku gunakan untuk mengecek kembali kelengkapan yang akan dibawa. Syukurlah...orang rumah ga protes, intinya komunikasi.

Info terakhir, kami harus sudah sampai di stasiun Senen sekitar jam 12, meskipun pemberangkatan kereta baru pukul 14.00 wib, untuk mencari tempat duduk yang kosong untuk kami tempati.

Pemberangkatan

Jakarta, 31 Agustus 2011

Sekitar jam 11 beberapa kawan sudah sampai di stasiun Senen, sambil menunggu yang lain, dan pastinya tiket yang aku pegang. Aku agak telat datang karena sempat ketiduran, walhasil di gerbong 1 sudah penuh, dan 9 tiket tidak mendapat tempat duduk. Maaf. (pengakuan dosa)

Ada sistem baru yang berlaku, karena biasanya kalau tiket tanpa tempat duduk itu bisa di gerbong mana aja, yang penting ada bangku kosong maka kita bisa menempatinya. Tapi itu tidak berlaku, tiket tanpa tempat duduk itu sudah ditentukan di gerbong mana kita akan “terlantar” jadi periksa kembali di gerbong mana kita di tempatkan sebelum kena sanksi dari petugas kereta api. Ada beberapa orang yang mesti pindah karena ternyata gerbongnya salah.

Beruntung tiket tambahan buat 4 orang yang dibeli Asep beda gerbong, di gerbong 3, jadilah aku, Riri, dan Asep langsung berburu tempat duduk. Alhamdulillah…ada  bangku kosong yang siap ditempati berkapasitas 6 orang dan diputuskan untuk tempat duduk  5 perempuan dan si pembeli tiket yang lebih memilih tidak ikut  bergabung dengan para lelaki di gerbong 1. (lah..tiketnya kan cuma 4 *berfikir*)

Di gerbong 1 ternyata kami bertemu lagi serobongan dengan tujuan yang sama. Rombongan Bekasi yang dipelopori Heru. Riri mengenalnya. Mereka bertujuh yang akhirnya bergabung menjadi satu tim dengan kami. Di gerbong lain banyak juga penumpang yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan kami, carriel besar tersangkut di pundak. Mungkin merekapun memiliki tujuan yang sama.

Saat kereta sudah jalan sekitar 3 jam, Joe dan Icha sempat main kucing-kucingan dengan petugas kereta karena beda tiket. Ada rasa was-was juga karena info yang beredar “akan ada sanksi kalau duduk di gerbong yang berbeda dengan yang tertera di tiket” (maklum kami anak baik)
Alhamdulillah…6 tempat duduk bisa kami kuasai (klo kayak gini merupakan kejahatan bukan ya?)

Kereta Matarmaja ontime diberangkatkan pada pukul 14.00
Matarmaja adalah kereta api ekonomi jurusan Malang-Jakarta. Namanya merupakan akronim dari nama-nama kota yang dilewati, yaitu Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta (Pasar Senen).

Selamat tinggal Jakartaku tersayang. Pergiku tak akan lama, karena aku akan kembali.
Sekitar 18 jam ke depan aku akan berada di dalam kereta ini. Perjalanan yang cukup panjang dan semoga saja menyenangkan


(bersambung)

*foto : google & Semeru Fun Hiking

Selasa, 13 September 2011

Semeru Fun Hiking (1)


 “mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya”
(Laskar Pelangi, Nidji)

Huufft… sulit sekali rasanya mengawali tulisan kali ini. Banyak yang ingin kuceritakan namun tersendat  di otak. Mengenai perjalanan yang berawal dari mimpi. Mimpi yang terus menari hingga akhirnya terpenuhi. Alhamdulillah.

Baiklah kawan, sebelum aku menggali ingatanku beberapa hari kemarin, izinkan aku mengucapkan “Selamat hari Raya Idul Fitri 1432H, Mohon maaf lahir dan batin”

Kusebut ini mimpi karena ini adalah impianku sejak dulu.  Bukan mimpi sehari , seminggu, atau sebulan yang lalu. Ini mimpi dari sekitar empat tahun yang lalu. Sejak aku dikenalkan tentang puncak-puncak tertinggi. Tentang sebuah keindahan alam ciptaan Tuhan yang tak tertandingkan. Tentang kebersamaan yang tak terpisahkan. Tentang persahabatan yang melekat erat. Tentang banyak hal yang bisa kudapat.  Tentang Semeru yang ingin aku tuju. Mungkin bagi sebagian orang, Semeru bukan hal yang baru. Tapi bagiku, Semeru adalah sesuatu (ikutin trend ah ). 

Ada yang berbeda untuk perayaan lebaranku kali ini. Aku meninggalkan sedikit kenyamanan menuju kenyamanan yang lain. Bersama sabahat mencari damai mengasah pribadi mengukir cinta ( Loh..itukan lirik lagu Mahameru- nya Dewa 19 ). Dari jauh-jauh hari telah aku persiapkan segalanya. Mulai dari perizinan orang tua sampai ke perizinan kantor  tempat aku bekerja. Sebulan sebelumnya bahkan (maklum terikat kontrak). Koordinasi dengan kawan-kawan seperjalanan dilakukan melalui media jejaring social. Oh ya..aku belum mengenal mereka semua, jadilah saat itu teman ku bertambah.

Persiapan


Riri sang koordinator menyusun daftar kelengkapan-kelengkapan apa saja yang harus disiapkan. Berhubung rencana yang kami buat adalah saat musim lebaran, jadi pemesanan tiket kereta menjadi perhatian. Beberapa kawan sudah mulai mengecek ke stasiun Senen untuk melakukan pemesanan, namun tiket baru dapat dipesan seminggu sebelum pemberangkatan.
 
Rencana kami berangkat lebaran hari kedua, kalau dilihat di kalender yang sudah terlanjur tercetak jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Dengan pertimbangan lama perjalanan, waktu cuti bersama dan cuti tambahan.

Seminggu sebelum pemberangkatan, diutuslah Ragil untuk memesan tiket kereta api Matarmaja. Pagi-pagi benar Ragil sudah sampai di stasiun Senen. Khawatir tidak mendapatkan tiket. Aku dan Icha datang memberi dukungan. Beruntung antrean tidak terlalu panjang, dan 9 tiket bisa didapatkan dengan lancar. TANPA TEMPAT DUDUK tertulis pada lembaran tiket yang kami dapatkan. Ya..inilah resiko bepergian saat lebaran, saat arus mudik, berbagai moda transportasi jadi rebutan.

Satu minggu waktu yang tersisa untuk kami gunakan sebagai persiapan. Sekali pertemuan kami lakukan untuk membicarakan tentang manajemen perjalanan. Dan 13 orang siap diberangkatkan.

(bersambung)


*foto : Semeru Fun Hiking

Jumat, 26 Agustus 2011

Sahabat Luar Biasa



Namanya Elang.  Kutemui Elang sedang duduk terdiam di tengah keramaian dengan tatapan mata yang tak tau sedang menyaksikan apa. Saat kudekati, Elang menunjukkan sikap curiga. Elang langsung menjaga bola-bola yang berada di kantong baju tidur yang dikenakannya. Satu tangan memegang kantong baju berisi bola, sedangkan tangan satunya lagi untuk Elang gunakan memegang alat bantu berdiri dan berjalannya.  Sesekali Elang menggeram yang aku tak mengerti maksudnya.

“jangan takut Elang, aku tak akan mengambil apa yang menjadi milikmu”, mungkin itu yang ingin sekali kuucapkan, tapi tidak terucap. Aku hanya menatap dengan tatapan ingin bersahabat.

Gadis remaja yang entah berapa kisaran usianya, karena saat aku tanya Elang justru menangis. Menangis, yang aku tak tau apa penyebabnya. Apa karena pertanyaanku itukah?hhmm..entah. Seorang ibu membantuku “merayu” agar Elang tak menangis. Merayu dengan sedikit meninggikan nada suara. Cara yang cukup ampuh kelihatannya tapi tak biasa. Aku merasa bersalah. Maaf.

Tidak lama Elang menangis karena setelah itu aku pun sudah dapat mengambil hatinya.
 “Elang...senyumnya mana?” serta merta tangisan berubah menjadi senyuman manis di bibirnya.
“Senyumnya manis sekali, Elang tambah cantik kalau tersenyum. Jangan menangis lagi ya”, akupun merayu, merayu dengan caraku. Setelah itu kami bersahabat.

Elang menunjukkan kemampuannya bernyanyi, meski semua menjadi bernada tinggi.  Tidak hanya bernyanyi tapi Elang pun pandai menari, walau hanya dengan menggerakkan tangan kiri.  Elang bersemangat menunjukkan itu kepadaku. Mewujudkan permintaanku. Terimakasih Elang. 

***

Namanya Adit. Dengan kedua tangan terikat ke belakang, Adit duduk bersimpuh di bawah kaki seorang ibu. Sambil mengigit-gigit bola yang berserakan di lantai. Adit tidak sedang dihukum tapi itu dilakukan untuk menghindari Adit melepaskan pakaian yang dikenakan atau malah membuka pakaian orang lain yang berada di dekatnya.  Dan aku pun menjadi salah satu ‘korban’ setelah ikatan tangan Adit dilepas oleh seorang Bapak yang menginginkan Adit bermain secara normal, tanpa diikat. Jilbabku dikibaskan begitu saja, beruntung tangannya langsung tertangkap, jadi tindakannya tertahan.

Usia Adit sekitar 4 tahun. Tak ada kelainan fisik yang tampak. Adit adalah anak laki-laki yang aktif, bergerak ke sana ke sini meskipun tak ada kata-kata yang diucapkan. Berlari mengejar bola, berebut dan saling melempar bola adalah permainan yang cukup seru kami lakukan. Tetap masih dalam pengawasan seorang ibu, namun tak membatasi kami untuk bermain sebelum Adit bosan. Dan pada akhirnya  Adit memilih hanya tidur-tiduran di lantai. Mungkin kelelahan. Terimakasih Adit. 

***

Elang dan Adit adalah bagian dari penghuni yayasan cacat ganda nusantara di daerah Beji, Depok  yang aku kunjungi bersama kawan-kawan dari komunitas bRantai. Yayasan ini menampung sekitar 116 orang, mulai dari usia balita hingga usia lanjut. Cacat yang diderita antara lain tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, hiperaktif, down syndrome, autis, epilepsy, dan lain-lain. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang ‘terbuang’ dari keluarganya dan tidak sedikit pula yang ditemukan terlantar di jalanan.

Luar biasa. Dengan keterbatasan yang dimiliki oleh para sahabat penghuni yayasan, mereka mampu menunjukkan segala kemampuan.  Betapa takjubnya aku saat menyaksikan permainan musik yang mereka tampilkan. Membawakan beberapa buah lagu populer dengan diiringi pukulan drum dan petikan gitar yang nyaris sempurna.

Tak lama aku berada di tengah-tengah mereka, namun bisa mengingatkanku kembali betapa manusia harus selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Mungkin kita pernah berfikir bahwa Tuhan tidak adil, tapi sesungguhnya  Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, tinggal bagaimana kita menjalani kehidupan dengan keikhlasan dan penuh rasa syukur.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”






-Faidah-
21 Agustus 2011 @YPLB Nusantara, Depok

*foto diambil dari koleksi pribadi, mba Relly, dan komunitas bRantai

Kamis, 21 Juli 2011

Brownies di Anak Krakatau (2)


Tidurku  tak cukup nyenyak  tadi malam. Beberapa kali terjaga hanya untuk sekedar membuka mata dan memastikan jam menunjukkan pukul berapa? Nampaknya aku sudah tidak sabar menanti pagi.

Mulai dari jam setengah empat pagi, satu persatu sepasang mata mulai membuka. Meskipun pagi masih buta tapi kegaduhan sudah mulai tercipta. Kami melakukan persiapan untuk melakukan perjalanan selanjutnya, menuju Anak Gunung Krakatau di seberang pulau. Dan itu berarti kami akan melaut lagi.

Penerangan hanya terlihat dari homestay kami, selebihnya gelap masih setia menyelimuti pagi. Dingin dari hembusan angin yang bertiup sepoi mengantarkan kami menuju dermaga pulau Sebesi.

“Kapal siap diberangkatkan, para penumpang dipersilakan menggunakan alat keselamatan demi menjaga keamanan”.

Byur…byur… byur... hempasan demi hempasan ombak membasahi kami. Ombak pagi ini cukup tinggi. Meskipun sudah menghindar namun tetap saja ia menghampiri. Kapal kami limbung ke kiri dan ke kanan mengikuti arus gelombang yang menerjang.

Langit masih saja gelap, tak jauh beda dengan saat kami berangkat. Ada mendung yang bergelayut pada awan yang membentang. Kami sudah berada di tengah lautan. Pulau-pulau hanya terlihat bayang. Dimana anak gunung Krakatau? Sudah satu jam lebih perjalanan kami, tapi belum juga ia menampakan diri.

Perlahan bulatan jingga mulai menyeruak di antara hamparan kelabu yang membisu. Tak ada langit biru, hanya kelam yang masih bersemayam  sisa hitam tadi malam.

Cukup panjang perjalanan kami. Dan sesaat mata-mata kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa dahsyat. Hembusan awan panas dari si Anak Krakatau sudah mulai terlihat. Kapal kami masih harus menempuh sekitar 30 menit lagi. Ada kengerian juga penasaran yang bergejolak. Cepat... cepat... sudah tak sabar rasanya melihat dari dekat.


Cukup menepi  di pinggir pantai berpasir hitam. Terlihat beberapa rombongan lain sudah datang lebih awal. Gelombang dan pasir saling bekejaran bagai sebuah tarian penyambutan. Kami berhamburan pada papan-papan informasi yang tegak berdiri sambil menunggu perizinan untuk segera mendaki. Anak  gunung Krakatau  merupakan salah satu peninggalan letusan Krakatau di tahun 1883 selain Rakata, dan Sertung.


Jalan berpasir terus kami temui.  Jalurnya cukup landai di awal. Sementara di puncak sana awan panas terus meluncur dari dalam kawah beberapa menit sekali  membentuk gumpalan coklat yang membumbung tinggi. Tiba-tiba “Boom...” suara ledakan dari dalam perut bumi. Bebatuan berhamburan dan awan panas lebih tebal menyembul ke permukaan. Orang-orang berlarian menghindar meskipun jatuh muntahan bukan ke arah kami. Aku yang masih berada di bawah cukup tercengang.

Hanya sampai patok 2 izin yang diberikan yaitu batas vegetasi, di mana akan ada hijau terakhir yang akan ditemui. Tapi hari itu petugas menambah izin sedikit lagi, mengizinkan kami naik lebih tinggi sampai patok 4. Pasir dan abu vulkanik menjadi saksi kami pernah menginjakkan kaki di sini. Petugas tak bosan-bosan memberi peringatan kepada setiap pengunjung untuk tidak terus naik ke punggungan, “terlalu Bahaya” katanya.

Masih ingin berlama-lama rasanya, menyaksikan fenomena alam anak gunung Krakatau, tapi sayang disayang waktu yang tak memungkinkan. Kami harus segera kembali karena masih ada kegiatan lain  sebelum kembali ke Jakarta. Sebelumnya kami menyempatkan sarapan pagi sebelum benar-benar meninggalkan pulau ini.


Sambil menatap laut lepas dengan ombak yang tak pernah lelah saling berkejaran kami menyantap nasi bungkus yang sudah disediakan. Sangat mengesankan.

Kapal sudah siap melaut lagi membawa kami pergi. Lagoon cabe tujuan kami berikutnya. Spot snorkeling yang terakhir untuk perjalanan kali ini.

Tanpa menunggu perintah, “byur…” satu persatu kawan melompat dari atas kapal. Airnya sangat jernih sehingga dari atas kapalpun aku masih dapat melihat pantulan karang dan rombongan ikan yang berenang mencari makan. Roti-roti yang kami lemparkan diserbu.  Menyuguhkan pandangan yang sangat menyenangkan.


Roti telah habis, begitu juga waktu bermain kami. Hari sudah siang, matahari semakin  terik. Kami harus segera kembali ke penginapan untuk siap-siap kembali ke Jakarta. Padahal aku masih ingin berlama lagi di sini.  Dengan segala pesona yang memanjakan mata.
Terimakasih Tuhan untuk segalanya. Ciptaanmu sungguh maha Sempurna.
Terimakasih kawan atas setiap keceriaan yang kita ciptakan.

Selesai.


-Faidah-



Senin, 21 Februari 2011

Siap Tidak Siap Harus Siap di “AKU SIAP”


Siapkan papan dengan ketebalan yang cukup untuk menahan beban, ukuran 1x1 meter. Siapkan bola basket, dan pastikan bola berbentuk bulat sempurna, tidak gembos maksudnya. Dan siapkan dua orang perkasa yang bersedia merelakan tenaga kedua tangannya dalam percobaan kali ini. Di sini kita akan membuat simulasi gempa dan bagaimana pengkondisiannnya”,  Jelas Kak Ina dalam briefing singkat acara “AKU SIAP” soft Launching Rumah Senyum yang disponsori oleh Kidzsmile Foundation, Jakarta.

Itu adalah salah satu percobaan yang akan kami peragakan bersama adik-adik dari SDN 14 Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Dua percobaan lainnya yaitu gunung merapi dan seismograf.
Semua sudah siaaaap??
Mana siapmu?
Ini siapku
Mana?
Ini…
Mana? Mana?
Ini…ini….

***

Sabtu, 19 Februari 2011. Kawan-kawan yang tergabung dalam kidzsmile foundation berkumpul di basecamp di daerah Jatinegara kaum. Ini kali pertamaku ikut acara kidzsmile, karna aku terhitung baru bergabung (newcomer niy ceritanya,,hehe)

Pagi itu, semua persiapan sudah dilakukan. Aku yang tidak ikut membantu dalam tahap persiapan, harus siap dengan tugas apa yang diberikan padaku  (pas banget kan tuh sama nama acaranya “AKU SIAP”)

Meskipun dengan orang-orang baru, tapi kami langsung bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Canda tawa saat proses saling berkenalan, manjadikan suasana makin menyenangkan.
Pukul 10.00 wib. Acara akan segera di mulai. Kebetulan, letak sekolah yang akan menjadi tempat bermain kami hanya cukup melangkahkan kaki beberapa langkah saja (sayang aku ga ngitung euy :D). Yang menjadi target kawan bermain yaitu kelas 4, 5 dan 6. Tapi berhubung kelas 3 ingin ikut bergabung, jadi dengan senang hati kami mempersilakan mereka bergabung.

“Adik-adik”, sapa Kak Siska melalui microphone, hingga suara lantangnya membuat perhatian adik-adik yang masih berlari kesana-kemari tertuju pada sumber suara itu, dan langsung berkumpul di tengah lapang membuat barisan yang cukup rapi.

“siaaaap”, serempak adik-adik menjawab sapaan Kak siska.

(Ternyata, mereka sudah punya sapaan khusus. Baru aku tau dan menjadi pengetahuan pertamaku. Sebetulnya aku ‘ga siap’ dengan acara ini, jadi aku mencoba lebih banyak mengamati sebelum benar-benar ‘aku siap’)

Dilanjut dengan yel-yel dan tepuk semangat yang begitu semangat hingga akhirnyapun aku ikut semangat.

“mana siapmu?” Kak siska kembali menyapa adik-adik yang sudah berbaris lebih rapi.
“ini siapku”, jawab adik-adik sambil menunjukkan sikap siap yang tidak siap, karna sepertinya mereka sudah siap dan tidak sabar ingin langsung bermain.
Acara perkenalan dari kakak-kakak kidzsmile, ada Kak Idzma, Kak Ina, Kak Siska, Kak Mel, Kak Syifa, Kak Yudo, Kak taufan, Kak Novi,  dan kak opay (nunjuk tangan sendiri)

Adik-adik dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok mencoba tiga percobaan, yaitu gunung merapi, seismograf, dan bencana gempa secara bergantian. Adik-adik begitu terlihat antusias di tiap-tiap percobaan. Aku hanya sebagai juru foto dan pengamat tanpa ikut andil dalam ketiga percobaan itu.

Kak syifa membuat tepuk gunung merapi agar lebih semangat.
Tepuk gunung merapi!
Keluar asap
(kedua tangan dibuka keatas dan direntangkan)
Hujan abu ( kedua tangan digoyang-goyang ke kiri dan kanan , seperti gerakan daaaaggh)
Bom batu ( seakan-akan menimpukan sesuatu yang bertubi-tubi ke depan)
Duaaarrrrr….. (sambil teriak, tangan kembali di buka ke atas dan di rentangkan)


Setelah semua percobaan selesai, semua adik dikumpulkan di dalam aula. Mengulas sedikit percobaan yang telah dimainkan bersama. Sementara kakak-kakak yang lain mempersiapkan acara terakhir yaitu mendongeng.

Kali ini aku ditugaskan untuk mendongeng, ups..bukan-bukan tapi membuka acara dongeng dari Kak Ina. Aku belum bisa, belum pernah, belum siap untuk mendongeng di depan adik-adik yang lumayan banyak. “Nanti yang ada malah kabur lagi kak ina, kalau kak opay yang mendongeng”, ujarku ke Kak Ina. Hehe. Kak Ina bercerita tentang kisah kelahiran nabi Muhammad SAW.

Diakhir cerita, adik-adik diberikan beberapa pertanyaan seputar dongeng yang Kak Ina sampaikan. Tanpa terlihat ada kesulitan, beberapa pertanyaan berhasil dijawab dengan benar. Adik Hebat.

Acara ditutup dengan bernyanyi bersama salawat Nabi melalui big screen, adik-adik pulang dengan wajah yang berbinar.

Alhamdulillah…semua rangkaian acara telah usai. Dan waktunya  EVALUASI……

***

Aku yang belum tau banyak tentang kidzsmile Foundation ini, jadi masih lebih banyak memerhatikan. Insyaallah, ke depannya (mudah-mudahan tidak terhambat masalah waktu) aku ingin coba lebih aktif lagi. Berkumpul dan bermain dengan adik-adik kecil adalah kegemaranku sejak dulu, dan inilah salah satu alasanku ikut bergabung.